Terbentuknya
dinasti Muwahhidun dikarenakan kondisi Afrika Utara pada waktu kekuasaan
dinasti Murabbitun mulai Melemah.[1] Dinasti
muwahhidun ini pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh
seorang dari suku Masmuda yang bernama Ibnu Tumart, dia adalah seorang penganut
Asy’ariah, perlu diingat yang bahwa Ibnu Tumart itu adalah seorang khadam
penyapu lantai mesjid di Cordova.[2]
Ibnu Tumart adalah seorang sufi di mesjid Cordova karena dia melihat
sepakterjang dinasti Murabbitun yang keluar dari sunnah Nabi yang mana dinasti
ini menganut paham tajsim, paham ini menganggap bahwa tuhan memiliki bentuk.
Menurut Ibnu Tumart ajaran Islam di bawah Murabithun, mengalami
penyimpangan. Gerakan ini didasari atas keinginan untuk memurnikan ajaran
Islam, berdasarkan Tauhid. Karena itu, gerakan ini kemudian dikenal dengan
sebutan Muwahhidun artinya golongan yang berfaham tauhid. Meskipun Ibnu
Tumart dianggap sebagai pencetus gerakan Muwahhidun, namun ia sendiri tidak
pernah menjadi Khalifah.Yang lebih terkenal adalah Abd al-Mu’min yang awalnya
sebagai panglima. Ia akhirnya memimpin dinasti Muwahhidun selama 33 tahun
(1130-1163) dengan membawa kemajuan pesat. Di Marakesi dakwahnya tidak berhasil
dan di tempat tersebut dia membawa murid nya yaitu Abdul Mu’min kelak dia akan
menjadi penerus Ibnu Tumart. Setelah itu Ibnu Tumart pergi ke Tanmal.
Setelah
datang ke Tanmal Ibnu Tumart menyusun Kekuatan, yang pertama dilakukan adalah
memberantas paham golongan Murabbitun yang telah menyimpang dari ajaran Islam
dan mengajak masyarakat menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar walau pun dengan
kekerasan Ibnu Tumart menganggap bahwa menegakkan kebenaran dan memberantas
kemungkaran harus dilakukan dengan kekerasan. Oleh karena itu, dalam
mendakwahkan prinsipnya, Ibnu Tumart tidak segan-segan menggunakan kekerasan.
Seperti yang dilakukannya kepada saudara perempuan seorang gebernur di kota
Fez, dengan cara memukul gadis tersebut karena tidak memakai kerudung. Bahkan
tradisi seperti minuman khamar, musik dan kesenangan terhadap pakaian yang
mewah, ditentang habis-habisan oleh Ibnu Tumart. Sikap keras yang diperankan
oleh Ibnu Tumart ini ditentang oleh sebagian besar masyarakat, terutama ulama
dan penguasa. Namun dakwahnya mendapat dukungan dari berbagai suku Berber
seperti suku Haraqah, Hantamah, Jaduniwiyah, dan Janfisah.
Setelah
mendapat pengikut yang banyak dan kepercayaan penuh dari orang-orang terkemuka
di sukunya, pada tahun 1121 M ia mengaku dirinya sebagai Al-Mahdi dan bertekad
untuk mendirikan pemerintahan Islam yang didasari atas prinsip ketauhidan.
Untuk menyebarkan dakwahnya di sebarkanlah da’i-da’i keberbagai daerah untuk
mengajak kebenaran dan meninggalkan kebiasaan yang buruk. Kepada pengikutnya
dia menyerukan supaya mendirikan shalat tepat waktu, berakhlak terpuji, taat pada
undang-undang, membuat wirid yang dibuat oleh imam Mahdi dan mendalami
kitab-kitab aqidah al-Muwahhidun.
Untuk memperkuat diri dibentuklah
kota sebagai pusat pemerintahan, yaitu suatu daerah di bagian Selatan Maroko,
dan dari sini pulalah dilancarkan seruan perang suci untuk
menaklukan daerah-daerah sekitarnya. Sarana utama yang
digunakan dalam mengkoordinir kegitan jama’ah, Ibnu Tumart
membangun sebuah Mesjid yang megah di Ibu kota Dinasti Muwahhidun. untuk
membentengi diri dari dalam, maka dibentuklah dewan, di antaranya adalah
sebagai berikut:
1. Dewan
Menteri (ahlal-syarah/ahl-al-jama’ah) terdiri dari sepuluh orang pembai’ah
al-Mahdi sebagai kepala da’i dari kalangan murid-murid, salah satunya adalah
Abdul Mu’min.
2. Dewan
Majelis pemuka suku yang menjadi wakil tiap suku, jumlahnya lima puluh orang
(al-Khamain), dan
3. Majelis
Rakyat, terdiri dari para murid (al-Thalabah), keluarga al-Mahdi (ahl al-dar),
kabilah Hurghah dan orang awam (ahl Timal) Tanmaal.[3]
Pada
perang pertama dengan Murabithun terjadi ketika Gubernur Sus dengan pasukannya
menyerang suku Hurglah yang membangkang terhadap pemerintahan Murabithun, tetapi
pasukan itu dapat dikalahkan oleh kelompok Muwahhidun, kemenangan pertama ini
membangkitkan semangat kelompok Muwahhidun untuk melakukan serangan
ke Maroko. Dengan kekuatan besar, kelompok Muwahiddun berusaha menaklukan
Maroko pada tahun 1125 M, tetapi gagal.
Setelah
mempunyai pengikut yang besar, maka pada tahun 1129 dengan jumlah pasukan
40.000 orang dibawah komando Abu Muhammad Al-Basyir Al-Wansyarisi, mereka
menyerang kota Marrakesey, sebagai salah satu kota penting dalam dinasti
Murabithun, perang tersebut disebut dengan nama “Perang Buhairah”. Dalam
peperangan ini pihak Muwahhidun menderita kekakalahan, banyak diantara
prajuritnya yang meninggal dan empat bulan kemudian Ibnu Tumart sendiri juga
wafat.
Setelah
Ibnu Tumart meninggal, Abdul Mukmin bin Ali, dibai’at sebagai penggantinya.
Setelah mendapat pengakuan dan dinobatkan oleh Dewan 10 orang. Ia diberi gelar
bukan Al-mahdi, melainkan Khalifah. Pada masa Ia diberi gelar bukan Al-mahdi,
melainkan Khalifah. Pada masa kepemimpinannya
inilah Muwahhidun banyak meraih kemenangan dalam beberapa peperangan.
Setelah
dinyatakan sebagai khalifah, langkah pertama dilakukannya adalah menundukkan
kabilah-kabilah di Afrika Utara dan mengakhiri kekuasaan Murabithun di Afrika
Utara. Sejak tahun 1144-1146 M, ia berhasil menguasai kota-kota yang pernah
dikuasai Murabithun, seperti Tlemcen, Fez, Tangier dan Aghmat. Setelah itu
Andalusia dikuasainya pada tahun 1145 M. Kemudian pada tahun 1147 M seluruh
wilayah Murabithun di kuasai Muwahhidun.
Sejak
Marrakesy dikuasai, pada tahun 1146 Abdul Mukmin bin Ali memindahkan ibu kota
pemerintahan dari Tinmal ke kota Marakesey dan dari sana ia menyusun ekspansinya
ke berbagai daerah, sehingga ia bisa menguasai Al-Jazair (1152), Tunisia
(1158), Tripoli–Libya (1160). Dalam masa pemerintahan Abdul Mukmin bin Ali
inilah, wilayah kekauasaan Al-Muwahidun membentang dari Tripoli hingga ke
Samudera Atlantik sebelah barat, merupakan suatu prestasi gemilang yang belum
pernah dicapai Dinasti atau Kerajaan manapun di Afrika Utara.
Pada
tahun 1162 Abdul Mukmin bin Ali meninggal dunia, beliau digantikan puteranya
sendiri yang bernama Abu Ya’kub Yusuf bin Abdul Mukmin, Dalam masa
kepemimpinannya paling tidak ada dua kali penyerangan yang dilakukannya ke
Andalusia. Pertama pada tahun 1169 di bawah pimpinan saudaranya Abu Hafs,
mereka berhasil merebut Toledo, kedua pada tahun 1184 yang dikomandoinya
sendiri, dan berhasil menguasai wilayah Syantarin sebelah Barat Andalusia,
sekaligus menghancurkan pertahanan tentara Kristen di daerah Lissabon (ibu kota
Portugal saat ini), sekalipun Abu Ya’kup sendiri luka berat yang mengakibatkan
kematiannya.
Abu
Ya’kup digantikan Abu Yusuf al-Manshur (1184 -1199). Al-Manshur mencatat
kemenangan atas penduduk bani Hamad di Bajaya setelah ia meminta bantuan kepada
Bahaduun, panglima Shalahuddin al-Ayyubi 1184 M. Tahun 1195 Abu Ya’cub berhasil
mematahkan Alfonso VIII setelah menguasai banteng Alarcos kemudian menguasai
Toledo dan akhirnya kembali ke Sevilla (sebagai ibu kota baru).
Kemudian
Al-Mansur digantikan Muhammad al-Nashir. Ia dikalahkan dalam pertempuran di
Toulose, sejak itu kerajan Muwahidun melemah, orang Kristen yang pernah
ditaklukan memberontak. Sebab itulah habislah kekuasaan Muwahidun di Andalusia.
Adapun
para pemimpin- pemimpin Muwahidun, dapat kita sebutkan sebagai-berikut:
1. Ibn
Tumart (w.1130 M)
2. Abdul
Mu’min (w.1163 M)
3. Abu
Yaqub Yusuf ibn Abdul Mu’min (w.1184 M)
4. Abu
Yusuf Yaqub ibn Abu Yaqub Yusuf (w.1199 M)
5. Muhammad
ibn al-Nashir (w.1214 M)
6. Al-Muntashir
(w.1223 M)
7. Abdul
Wahid ibn al-Muntashir (w.1224 M)
8. Abu
Muhammad al-Adil(w.1227 M)
9. Al-Ma’mun
(w.1233 M)
10. Abdul
Wahid II (w.1243 M)
11. Al-Mutamid
(w.1266 M)
12.
Al-Wasiq.
Dalam
menjalankan hukum pada masa dinasti Muwahhidun, dinasti ini menggunakan hukum
syariat Islam, karna didasari oleh tujuan utama dari gerakan ini yaitu
menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, dan juga karena perkembangan paham tajsim
yang sudah berkembang pada masa dinasti Murabbitun. Sebagai buktinya salah
satunya pada masa kepemimpinan Ibnu Tumart Seperti yang dilakukannya kepada
saudara perempuan seorang gebernur di kota Fez, dengan cara memukul gadis
tersebut karena tidak memakai kerudung.
A.
Perkembangan
Yang Dicapai
Setelah
Abdul Mu’min dinobatkan sebagai Khalifah, dengan cepat dia melakukan penaklukan
terhadap daerah-daerah kekuasaan Murabbitun, dengan ditaklukannya kekuasaan
Murabbitun yang merupakan lahan-lahan yang subur serta jalur perdagangan, maka
terciptalah kemajuan pada dinasti Muwahhidun. Kemajuan yang dicapai dinasti
Muwahhidun adalah sebagai berikut:
1. Bidang
Politik
Adapun
daerah-daerah yang ditaklukan oleh dinasti Muwahhidun pada masa pemerintahan
Abdul Mu’min adalah sebagai berikut:
1. Tahun
1141 M wilayah di Fez, Couta, Tangier dan Aghmath.
2. Tahun
1145 M Andalusia
3. Tahun
1159 M Almeria, dan Gilbartan dijadikan pusat pemerintahan, dan
Tidak
jauh berbeda dengan ayahnya, sehingga usaha yang ditinggalkan oleh ayahnya Abu
Yaqub Yusuf ibn Abdul Mu’min lanjutkan. Dengan hasil, pada tahun 1172 M ia
menguasai kota Seville yang ia lanjutkan ke Toledo, namun ketika pasukannya
tiba di Santarem dekat Lisabon, mereka dihadang oleh tentara Kristen
mengakibatkan Abu Yakub Yusuf meninggal pada tahun 1181 M karena terluka waktu
pertemuan tersebut. Sepeninggal Abu Yakub Yusuf pimpinan pemerintah dipegang
oleh puteranya yang bernama Abu Yusuf Yakub al-Manshur. Masalah yang dihadapi
oleh al-Manshur ini juga tidak jauh berbeda dengan masa-masa penguasa
sebelumnya, yaitu menumpas para pemberontak, yang ada di Andalusia. Semua dapat
diatasi dan kota Bijaya (Bogie) dapat dikuasainya.
2. Bidang
Ilmu Pengetahuan dan Filsafat
Kekuasaan
Dinasti Muwahhidun yang meliputi Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol), sangat
berimbang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Boleh dikatakan
bahwa tradisi keilmuan yang telah hilang di dunia Islam bagian timur, apalagi
akibat kesalah pahaman masyarakat terhadap saran al-Ghazali tentang 3 (tiga)[5]
hal pemikiran para filosof dengan mengatakan mereka kafir. Telah bangkit
kembali di dunia Islam bagian barat yang menjadi batu loncatan bagi transmisi
(berpindah) peradaban Islam ke barat, terutama pemikiran-pemikiran dari Ibn
Rusyd.[6]
Adapun para ilmuwan yang muncul pada masa dinasti Muwahhidun ini terutama pada
masa kepemimpinan Abdul Mu’min dan Abu Yakub Yusuf adalah sebagai berikut :
a. Ibrahim
bin Malik bin Mulkun adalah seorang pakar al-Qur’an dan ilmu Nahwu, namun
sayangnya penulis belum menemukan kitab karangannya.
b. Al-Hafidz
Abu Bakr bin al-Jad seorang ahli fiqh, dengan karyanya yang berjudul Al-Taysir fi al-mudawat wal tadbir.
c. Ibnu
al-Zuhr ahli kedokteran, ia mewariskan beberapa
kitab kedokteran penting bagi peradaban manusia modern, seperti Kitab at-Taysir
fi al-Mudawat wa at-Tadbir (Perawatan dan Diet) dan Kitab al-Iktisad fi Islah
an-Nufus wa al-Ajsad ( Perawatan Jiwa dan Raga) yang berisi rangkuman berbagai
penyakit, perawatannya, pencegahan, kesehatan, dan psikoterapi. Salinan kitab
ini masih tersimpan di Perpustakaan Istana di Rabat. Karyanya yang lain adalah
Kitab al-Aghdia wa al-Adwya (Nutrisi dan Obat). Dalam kitab itu, Ibnu Zuhr
menjelaskan beragam jenis makanan bergizi, obat-obatan, serta dampaknya bagi
kesehatan risalah. Dua salinannya masih tersimpan dengan baik di Perpustakaan
Istana di Rabat. Lewat karya-karyanya itulah pemikiran Ibnu Zuhr hingga kini
tak pernah mati.[7]
d. Ibn
Bajjah (533 H/1139 M), seorang filosof dengan karyanya The Rule of Solitary dan Tadbir
al-muttawahid. Karyanya yang populer adalah Risalah
al-Wida. Dalam kitab itu, Ibnu Bajjah menceritakan tentang ketuhanan, kewujudan
manusia, alam, dan uraian mengenai bidang perobatan. Ia
juga seorang ahli musik yang disebut Avenpace atau Abenpace.
e. Ibnu
Thufail (581 H/ 1105-1185 M), seorang filosof dengan karyanya Hayy bin Yaqzhan. Ia juga dikenal
sebagai seorang dokter, ahli geografi dan juga dianggap sebagai penyair
Andalusia atau yang dikenal dengan nama Al-Andalusi, Al-Kurtubi, Al-Isibily.[8]
f. Ibnu
Rusyd (1126-1198 M), ia adalah seorang filosof, dokter, ahli matematika, fikih,
ahli hukum, ahli astronomi juga seorang poplemik atau dikenal dengan sebutan
Averrous/Averroisme di Barat, dengan karyanya al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah tentang kelopak mata, Tahafut al-Tahafut, Fashl fima bayn
al-syari’ah wa al-hikmah min al-Itishal.[9]
3. Bidang
Arsitektur
Bidang arsitektur dapat dilihat bangunan
menara Giralda pada Mesjd Jami’di Selville, Bab
Aquwnaou dan Al-Kutubiyah, menara yang sangat megah di Maroko dan menara Hasan
di Rabath. Juga mendirikan rumah sakit di Marakesy yang tidak tertandingi.
4. Bidang
Ekonomi.
Dalam bidang
ekonomi, dinasti Muwahhidun menguasai jalur-jalur strategis di Italia dan
menjalin hubungan dagang dengan Genoa dan tahun 1157 M dengan Pisa.
Perjanjian itu berisi tentang perdagangan, ijin mendirikan bangunan gedung,
kantor, loji dan pemungutan pajak.
Kesimpulannya ialah Kekuasaan Muwahhidun tumbuh dan
berkembang di Afrika Utara dan Spanyol adalah karena ingin memurnikan ajaran
Islam yang telah dikotori oleh orang-orang Murabhitun pada fase akhir
kekuasaannya. Dinasti ini mampu meraih kejayaan karena pemimpin yang kuat serta
cinta ilmu pengetahuan. Kehadiran dinasti ini telah membuka mata orang barat
untuk mengejar ketertinggalannya dari umat Islam, apalagi setelah ajaran Ibn
Rusyd telah mempengaruhi para pelajar barat.
[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Amzah, 2010), hlm. 170
[2] Hamka, Sejarah Umat Islam, (Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 2005),
hlm 309
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Kencana,
2007), hlm.137
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2008), hlm. 99
[5] Tiga hal tersebut yaitu :
1. Masalah qadimnya alam
2. Masalah Tuhan tidak mengetahui yang juz’iyyat (parsial)
3. Masalah Kebangkitan Jasmani di Akhirat
[6]Busman Edyar, dkk. Sejarah Perdaban Islam, (Jakarta:
Pustaka Asatruss, 2009), hlm. 133
[7]
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/01/m1scm2-inilah-ilmuwan-legendaris-dari-zaman-almurabitun
[8] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 187
[9] Ibid., hlm. 192
No comments:
Post a Comment