Google Follower

Friday, March 27, 2015

SEJARAH DINASTI MUWAHHIDUN: Menelusuri Jejak Islam Pada Masa Kejayaan Dinasti Muwahhidun (1146-1269)



        Terbentuknya dinasti Muwahhidun dikarenakan kondisi Afrika Utara pada waktu kekuasaan dinasti Murabbitun mulai Melemah.[1] Dinasti muwahhidun ini pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh seorang dari suku Masmuda yang bernama Ibnu Tumart, dia adalah seorang penganut Asy’ariah, perlu diingat yang bahwa Ibnu Tumart itu adalah seorang khadam penyapu lantai mesjid di Cordova.[2] Ibnu Tumart adalah seorang sufi di mesjid Cordova karena dia melihat sepakterjang dinasti Murabbitun yang keluar dari sunnah Nabi yang mana dinasti ini menganut paham tajsim, paham ini menganggap bahwa tuhan memiliki bentuk.
           Menurut Ibnu Tumart ajaran Islam di bawah Murabithun, mengalami penyimpangan. Gerakan ini didasari atas keinginan untuk memurnikan ajaran Islam, berdasarkan Tauhid. Karena itu, gerakan ini kemudian dikenal dengan sebutan Muwahhidun artinya golongan yang berfaham tauhid. Meskipun Ibnu Tumart dianggap sebagai pencetus gerakan Muwahhidun, namun ia sendiri tidak pernah menjadi Khalifah.Yang lebih terkenal adalah Abd al-Mu’min yang awalnya sebagai  panglima. Ia akhirnya memimpin dinasti Muwahhidun selama 33 tahun (1130-1163) dengan membawa kemajuan pesat. Di Marakesi dakwahnya tidak berhasil dan di tempat tersebut dia membawa murid nya yaitu Abdul Mu’min kelak dia akan menjadi penerus Ibnu Tumart. Setelah itu Ibnu Tumart pergi ke Tanmal.
Setelah datang ke Tanmal Ibnu Tumart menyusun Kekuatan, yang pertama dilakukan adalah memberantas paham golongan Murabbitun yang telah menyimpang dari ajaran Islam dan mengajak masyarakat menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar walau pun dengan kekerasan Ibnu Tumart menganggap bahwa menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran harus dilakukan dengan kekerasan.  Oleh karena itu, dalam mendakwahkan prinsipnya, Ibnu Tumart tidak segan-segan menggunakan kekerasan. Seperti yang dilakukannya kepada saudara perempuan seorang gebernur di kota Fez, dengan cara memukul gadis tersebut karena tidak memakai kerudung. Bahkan tradisi seperti minuman khamar, musik dan kesenangan terhadap pakaian yang mewah, ditentang habis-habisan oleh Ibnu Tumart. Sikap keras yang diperankan oleh Ibnu Tumart ini ditentang oleh sebagian besar masyarakat, terutama ulama dan penguasa. Namun dakwahnya mendapat dukungan dari berbagai suku Berber seperti suku Haraqah, Hantamah, Jaduniwiyah, dan Janfisah.
Setelah mendapat pengikut yang banyak dan kepercayaan penuh dari orang-orang terkemuka di sukunya, pada tahun 1121 M ia mengaku dirinya sebagai Al-Mahdi dan bertekad untuk mendirikan pemerintahan Islam yang didasari atas prinsip ketauhidan. Untuk menyebarkan dakwahnya di sebarkanlah da’i-da’i keberbagai daerah untuk mengajak kebenaran dan meninggalkan kebiasaan yang buruk. Kepada pengikutnya dia menyerukan supaya mendirikan shalat tepat waktu, berakhlak terpuji, taat pada undang-undang, membuat wirid yang dibuat oleh imam Mahdi dan mendalami kitab-kitab aqidah al-Muwahhidun.
Untuk memperkuat diri dibentuklah kota sebagai pusat pemerintahan, yaitu suatu daerah di bagian Selatan Maroko, dan  dari sini pulalah dilancarkan seruan perang suci untuk menaklukan daerah-daerah sekitarnya. Sarana utama yang  digunakan  dalam  mengkoordinir kegitan jama’ah, Ibnu Tumart membangun sebuah Mesjid yang megah di Ibu kota Dinasti Muwahhidun. untuk membentengi diri dari dalam, maka dibentuklah dewan, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.      Dewan Menteri (ahlal-syarah/ahl-al-jama’ah) terdiri dari sepuluh orang pembai’ah al-Mahdi sebagai kepala da’i dari kalangan murid-murid, salah satunya adalah Abdul Mu’min.
2.      Dewan Majelis pemuka suku yang menjadi wakil tiap suku, jumlahnya lima puluh orang (al-Khamain), dan
3.      Majelis Rakyat, terdiri dari para murid (al-Thalabah), keluarga al-Mahdi (ahl al-dar), kabilah Hurghah dan orang awam (ahl Timal) Tanmaal.[3]
Pada perang pertama dengan Murabithun terjadi ketika Gubernur Sus dengan pasukannya menyerang suku Hurglah yang membangkang terhadap pemerintahan Murabithun, tetapi pasukan itu dapat dikalahkan oleh kelompok Muwahhidun, kemenangan pertama ini membangkitkan semangat kelompok  Muwahhidun  untuk melakukan serangan ke Maroko. Dengan kekuatan besar, kelompok Muwahiddun berusaha menaklukan Maroko pada tahun 1125 M, tetapi gagal.
Setelah mempunyai pengikut yang besar, maka pada tahun 1129 dengan jumlah pasukan 40.000 orang dibawah komando Abu Muhammad Al-Basyir Al-Wansyarisi, mereka menyerang kota Marrakesey, sebagai salah satu kota penting dalam dinasti Murabithun, perang tersebut disebut dengan nama “Perang Buhairah”. Dalam peperangan ini pihak Muwahhidun menderita kekakalahan, banyak diantara prajuritnya yang meninggal dan empat bulan kemudian Ibnu Tumart sendiri juga wafat.
Setelah Ibnu Tumart meninggal, Abdul Mukmin bin Ali, dibai’at sebagai penggantinya. Setelah mendapat pengakuan dan dinobatkan oleh Dewan 10 orang. Ia diberi gelar bukan Al-mahdi, melainkan Khalifah. Pada masa Ia diberi gelar bukan Al-mahdi, melainkan Khalifah. Pada masa  kepemimpinannya inilah Muwahhidun banyak meraih kemenangan dalam beberapa peperangan.
Setelah dinyatakan sebagai khalifah, langkah pertama dilakukannya adalah menundukkan kabilah-kabilah di Afrika Utara dan mengakhiri kekuasaan Murabithun di Afrika Utara. Sejak tahun 1144-1146 M, ia berhasil menguasai kota-kota yang pernah dikuasai Murabithun, seperti Tlemcen, Fez, Tangier dan Aghmat. Setelah itu Andalusia dikuasainya pada tahun 1145 M. Kemudian pada tahun 1147 M seluruh wilayah Murabithun di kuasai Muwahhidun.
Sejak Marrakesy dikuasai, pada tahun 1146 Abdul Mukmin bin Ali memindahkan ibu kota pemerintahan dari Tinmal ke kota Marakesey dan dari sana ia menyusun ekspansinya ke berbagai daerah, sehingga ia bisa menguasai Al-Jazair (1152), Tunisia (1158), Tripoli–Libya (1160). Dalam masa pemerintahan Abdul Mukmin bin Ali inilah, wilayah kekauasaan Al-Muwahidun membentang dari Tripoli hingga ke Samudera Atlantik sebelah barat, merupakan suatu prestasi gemilang yang belum pernah dicapai Dinasti atau Kerajaan manapun di Afrika Utara.
Pada tahun 1162 Abdul Mukmin bin Ali meninggal dunia, beliau digantikan puteranya sendiri yang bernama Abu Ya’kub Yusuf bin Abdul Mukmin, Dalam masa kepemimpinannya paling tidak ada dua kali penyerangan yang dilakukannya ke Andalusia. Pertama pada tahun 1169 di bawah pimpinan saudaranya Abu Hafs, mereka berhasil merebut Toledo, kedua pada tahun 1184 yang dikomandoinya sendiri, dan berhasil menguasai wilayah Syantarin sebelah Barat Andalusia, sekaligus menghancurkan pertahanan tentara Kristen di daerah Lissabon (ibu kota Portugal saat ini), sekalipun Abu Ya’kup sendiri luka berat yang mengakibatkan kematiannya.
Abu  Ya’kup digantikan Abu Yusuf al-Manshur (1184 -1199). Al-Manshur mencatat kemenangan atas penduduk bani Hamad di Bajaya setelah ia meminta bantuan kepada Bahaduun, panglima Shalahuddin al-Ayyubi 1184 M. Tahun 1195 Abu Ya’cub berhasil mematahkan Alfonso VIII setelah menguasai banteng Alarcos kemudian menguasai Toledo dan akhirnya kembali ke Sevilla (sebagai ibu kota baru).
Kemudian Al-Mansur digantikan Muhammad al-Nashir. Ia dikalahkan dalam pertempuran di Toulose, sejak itu kerajan Muwahidun melemah, orang Kristen yang pernah ditaklukan memberontak. Sebab itulah habislah kekuasaan Muwahidun di Andalusia.
Adapun para pemimpin- pemimpin Muwahidun, dapat kita sebutkan sebagai-berikut:
1.      Ibn Tumart (w.1130 M)
2.      Abdul Mu’min (w.1163 M)
3.      Abu Yaqub Yusuf ibn Abdul Mu’min (w.1184 M)
4.      Abu Yusuf Yaqub ibn Abu Yaqub Yusuf (w.1199 M)
5.      Muhammad ibn al-Nashir (w.1214 M)
6.      Al-Muntashir (w.1223 M)
7.      Abdul Wahid ibn al-Muntashir (w.1224 M)
8.      Abu Muhammad al-Adil(w.1227 M)
9.      Al-Ma’mun (w.1233 M)
10.  Abdul Wahid II (w.1243 M)
11.  Al-Mutamid (w.1266 M)
12.  Al-Wasiq.       
Dalam menjalankan hukum pada masa dinasti Muwahhidun, dinasti ini menggunakan hukum syariat Islam, karna didasari oleh tujuan utama dari gerakan ini yaitu menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, dan juga karena perkembangan paham tajsim yang sudah berkembang pada masa dinasti Murabbitun. Sebagai buktinya salah satunya pada masa kepemimpinan Ibnu Tumart Seperti yang dilakukannya kepada saudara perempuan seorang gebernur di kota Fez, dengan cara memukul gadis tersebut karena tidak memakai kerudung.
A.    Perkembangan Yang Dicapai
            Setelah Abdul Mu’min dinobatkan sebagai Khalifah, dengan cepat dia melakukan penaklukan terhadap daerah-daerah kekuasaan Murabbitun, dengan ditaklukannya kekuasaan Murabbitun yang merupakan lahan-lahan yang subur serta jalur perdagangan, maka terciptalah kemajuan pada dinasti Muwahhidun. Kemajuan yang dicapai dinasti Muwahhidun adalah sebagai berikut:
1.      Bidang Politik
            Adapun daerah-daerah yang ditaklukan oleh dinasti Muwahhidun pada masa pemerintahan Abdul Mu’min adalah sebagai berikut:
1.      Tahun 1141 M wilayah di Fez, Couta, Tangier dan Aghmath.
2.      Tahun 1145 M Andalusia
3.      Tahun 1159 M Almeria, dan Gilbartan dijadikan pusat pemerintahan, dan
4.      Tahun 1160 M Aljazair, Tunisia dan Tripoli.[4]
Tidak jauh berbeda dengan ayahnya, sehingga usaha yang ditinggalkan oleh ayahnya Abu Yaqub Yusuf ibn Abdul Mu’min lanjutkan. Dengan hasil, pada tahun 1172 M ia menguasai kota Seville yang ia lanjutkan ke Toledo, namun ketika pasukannya tiba di Santarem dekat Lisabon, mereka dihadang oleh tentara Kristen mengakibatkan Abu Yakub Yusuf meninggal pada tahun 1181 M karena terluka waktu pertemuan tersebut. Sepeninggal Abu Yakub Yusuf pimpinan pemerintah dipegang oleh puteranya yang bernama Abu Yusuf Yakub al-Manshur. Masalah yang dihadapi oleh al-Manshur ini juga tidak jauh berbeda dengan masa-masa penguasa sebelumnya, yaitu menumpas para pemberontak, yang ada di Andalusia. Semua dapat diatasi dan kota Bijaya (Bogie) dapat dikuasainya.
2.      Bidang Ilmu Pengetahuan dan Filsafat
            Kekuasaan Dinasti Muwahhidun yang meliputi Afrika Utara dan Andalusia (Spanyol), sangat berimbang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Boleh dikatakan bahwa tradisi keilmuan yang telah hilang di dunia Islam bagian timur, apalagi akibat kesalah pahaman masyarakat terhadap saran al-Ghazali tentang 3 (tiga)[5] hal pemikiran para filosof dengan mengatakan mereka kafir. Telah bangkit kembali di dunia Islam bagian barat yang menjadi batu loncatan bagi transmisi (berpindah) peradaban Islam ke barat, terutama pemikiran-pemikiran dari Ibn Rusyd.[6] Adapun para ilmuwan yang muncul pada masa dinasti Muwahhidun ini terutama pada masa kepemimpinan Abdul Mu’min dan Abu Yakub Yusuf adalah sebagai berikut :
a.       Ibrahim bin Malik bin Mulkun adalah seorang pakar al-Qur’an dan ilmu Nahwu, namun sayangnya penulis belum menemukan kitab karangannya.
b.      Al-Hafidz Abu Bakr bin al-Jad seorang ahli fiqh, dengan karyanya yang berjudul Al-Taysir fi al-mudawat wal tadbir.
c.       Ibnu al-Zuhr ahli kedokteran, ia mewariskan beberapa kitab kedokteran penting bagi peradaban manusia modern, seperti Kitab at-Taysir fi al-Mudawat wa at-Tadbir (Perawatan dan Diet) dan Kitab al-Iktisad fi Islah an-Nufus wa al-Ajsad ( Perawatan Jiwa dan Raga) yang berisi rangkuman berbagai penyakit, perawatannya, pencegahan, kesehatan, dan psikoterapi. Salinan kitab ini masih tersimpan di Perpustakaan Istana di Rabat. Karyanya yang lain adalah Kitab al-Aghdia wa al-Adwya (Nutrisi dan Obat). Dalam kitab itu, Ibnu Zuhr menjelaskan beragam jenis makanan bergizi, obat-obatan, serta dampaknya bagi kesehatan risalah. Dua salinannya masih tersimpan dengan baik di Perpustakaan Istana di Rabat. Lewat karya-karyanya itulah pemikiran Ibnu Zuhr hingga kini tak pernah mati.[7]
d.      Ibn Bajjah (533 H/1139 M), seorang filosof dengan karyanya The Rule of Solitary dan Tadbir al-muttawahid. Karyanya yang populer adalah Risalah al-Wida. Dalam kitab itu, Ibnu Bajjah menceritakan tentang ketuhanan, kewujudan manusia, alam, dan uraian mengenai bidang perobatan. Ia juga seorang ahli musik yang disebut Avenpace atau Abenpace.
e.       Ibnu Thufail (581 H/ 1105-1185 M), seorang filosof dengan karyanya Hayy bin Yaqzhan. Ia juga dikenal sebagai seorang dokter, ahli geografi dan juga dianggap sebagai penyair Andalusia atau yang dikenal dengan nama Al-Andalusi, Al-Kurtubi, Al-Isibily.[8]
f.       Ibnu Rusyd (1126-1198 M), ia adalah seorang filosof, dokter, ahli matematika, fikih, ahli hukum, ahli astronomi juga seorang poplemik atau dikenal dengan sebutan Averrous/Averroisme di Barat, dengan karyanya al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah tentang kelopak mata, Tahafut al-Tahafut, Fashl fima bayn al-syari’ah wa al-hikmah min al-Itishal.[9]
3.      Bidang Arsitektur
Bidang arsitektur dapat dilihat bangunan menara Giralda pada Mesjd Jami’di Selville, Bab  Aquwnaou dan Al-Kutubiyah, menara yang sangat megah di Maroko dan menara Hasan di Rabath. Juga mendirikan rumah sakit di Marakesy yang tidak tertandingi.
4.      Bidang Ekonomi.
Dalam bidang ekonomi, dinasti Muwahhidun menguasai jalur-jalur strategis di Italia dan menjalin hubungan dagang  dengan Genoa dan tahun 1157 M dengan Pisa. Perjanjian itu berisi tentang perdagangan, ijin mendirikan bangunan gedung, kantor, loji dan pemungutan pajak.
Kesimpulannya ialah Kekuasaan Muwahhidun tumbuh dan berkembang di Afrika Utara dan Spanyol adalah karena ingin memurnikan ajaran Islam yang telah dikotori oleh orang-orang Murabhitun pada fase akhir kekuasaannya. Dinasti ini mampu meraih kejayaan karena pemimpin yang kuat serta cinta ilmu pengetahuan. Kehadiran dinasti ini telah membuka mata orang barat untuk mengejar ketertinggalannya dari umat Islam, apalagi setelah ajaran Ibn Rusyd telah mempengaruhi para pelajar barat.


[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 170
[2] Hamka, Sejarah Umat Islam, (Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 2005), hlm 309
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm.137
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 99

[5] Tiga hal tersebut yaitu :

1.       Masalah qadimnya alam

2.       Masalah Tuhan tidak mengetahui yang juz’iyyat (parsial)

3.       Masalah Kebangkitan Jasmani di Akhirat

[6]Busman Edyar, dkk. Sejarah Perdaban Islam, (Jakarta: Pustaka Asatruss, 2009), hlm. 133
[7] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/01/m1scm2-inilah-ilmuwan-legendaris-dari-zaman-almurabitun
[8] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 187
[9] Ibid., hlm. 192

No comments:

Post a Comment